pencarian

Minggu, 26 April 2009

Tantangan Kepala Sekolah

Satu bulan menjelang akhir tahun ajaran, kisaran bulan Juni pertengahan, Pak Dharmawan, Kepala Sekolah SMP ngetop di Jawa Barat, harus menerima berbagai keluhan dan menghadapi beragam persoalan Guru. 
Kedewasaan berfikir, wisdom, dan sikap mengayomi sebagai seorang pimpinan diperlukan untuk mengambil keputusan, mencari solusi atau memberi penguatan kepada para Guru, yang telah menjalani pekerjaan bak seorang actor yang harus memainkan peran ceria, segar, semangat, di tengah kepuruk persoalan yang mendera.

Guru juga manusia! Demikian jargon yang diilhami sebuah lagu. Tuntutan untuk selalu tampil prima di depan siswa, menjadikan Guru juga harus memiliki kemampuan akting, layaknya aktris film.

Lakon yang –mestinya- secara sadar dipilih oleh para Guru, sungguh tidak sama dengan peran dan profesi lain. Kemampuan menyimpan persoalan pribadi, agar tetap nampak bersemangat dan cheers di depan siswa, menjadi layanan penting di sekolah yang mengedepankan semangat pembaruan pendidikan.

Peran Kepala Sekolah, Pricipal, Ketua Yayasan, atau apa pun posisi tertingi di sekolah, umumnya bisa menerima persoalan, keluhan, curhat, dan memberi solusi Guru, di beranda sekolah kita.......

Pak Din dan Sawah Puso

Berangkat dari keluarga petani, Pak Din masih memiliki sepetak sawah di kampungnya, Kranggan, Bekasi. Sawah yang menjadi penghidupan orang tua Pak Din dan adiknya, di musim kemarau ini mengalami puso alias kekeringan. Harus dilakukan pengairan buatan jika tak ingin gagal di musim panen Juli ini.

Biaya yang diperlukan sekitar tiga juta rupiah. Pak Din sebagai sulung, tertimpa amanah nan besar untuk mengatasi hal ini. Ayahnya sudah mengirim pesan lewat seorang kerabat agar Pak Din mengirimkan uang.

Maka, di sebuah sore di bulan Juni, Pak Din menghadap manager sekolah untuk meminjam uang dalam waktu sesegera mungkin .....

Bu Tyas Sang Hero

”Saya mau mengundurkan diri Pak,” demikian kata Bu Tyas lesu saat menghadap kepala sekolah, awal Juni lalu. ”Keadaan keluarga saya sedang terpuruk. Bisnis suami saya gagal total. Kami sudah pindah kontrakan ke rumah mertua. Saya sangat terpukul Pak Sami,” demikian keluhan Bu Tyas pada Pak Kepsek, yang terdiam tanpa kata. 
Dia terus mendengar alasan Bu Tyas. ” Saya harus menjadi tulang punggung. Saya harus mencari tambahan biaya hidup. Ijinkan saya mengundurkan diri.”
”Lalu Bu Tyas akan kerja dimana?” tanya Pak Sami tanpa ekspresi. ”Saya...saya akan jadi supir bus way Pak. Kebetulan ada saudara yang memberi kemudahan agar saya bisa masuk di jajaran driver wanita. Dan saya sudah diterima Pak. Ini surat pengunduran diri saya ...”

Rika yang tak boleh menikah degan pilihan hatinya

Hasil PK atau penilaian kerja semester ini menunjukkan hasil yang tidak memuaskan pada kinerja Bu Rika. Pekerjaan lesson plan dan manajemen kelas sangat tak memuaskan. Sebelum keluar surat teguran, rupanya Bu Rika sudah sadar diri. Dia segera menghadap principal sekolah, sambil menumpahkan kegelisahan hatinya.
”Boleh saya mengganggu Bu Ning?” Pinta Bu Rika pada atasannya. ”Saya sedang tidak perform, Bu. Saya merasa capaian kerja saya sangat menurun. Mohon ibu memberi saya waktu, mungkin saya perlu istirahat untuk menenangkan pikiran saya.”

Alis Bu Ning terangkat, penasaran. “Apa yang terjadi?” tanyanya. ”Orang tua tidak menyetujui rencana pernikahan saya dengan pilihan hati saya, Bu. Orang tua masih menganggap saya salah pilih. Calon suami saya bukan sarjana, dan pekerjaannya belum tetap. Tapi saya sangat yakin dia bisa jadi imam saya. Hanya saja saya juga tak mungkin menikah jika tanpa restu orang tua,” jelas Bu Rika, suaranya memarau setengah meratap. 
”Ijinkan saya cuti, meski diluar tanggungan ya Bu. Sebulan ini saya akan melakukan refleksi dan pembenahan hati."

Anda pimpinan sekolah, berapa banyak catatan persoalan Guru pada setahun ajaran ini?

Persoalan kontrakan rumah Pak Abi habis, Pak Aziz yang tak mau menjadi koordinator level jika tak ada fasilitas kredit motor, meninggalnya anak Bu Dina yang baru lahir, Bu Citra yang hamil dan butuh istirahat, permintaan pinjam mobil pak Bambang untuk mengantar orangtuanya menjemput adik pak Bambang yang dibawa kabur orang. Lalu ada Pak Didik yang bingung mencari uang masuk sekolah untuk anak sulungnya ke Akabri, Bu Nur yang anaknya sakit melulu, Bu Nawi yang minta posisi baru, Pak Nawis yang mempertanyakan kotrak kerjanya yang diperpanjang melulu, dan segambreng masalah lain -- baik yang terkait karir akademis dan fasilitas kesejahteraan, hingga persoalan pribadi keluarga Guru.

VVC Plus

Dr. Djokosantoso Moeljono, penulis Beyond Leadership, dalam bukunya ”8 Langkah Startegis Menuju Karir Puncak” memberikan rumus VVC = Vision, Value, Courage, sebagai pilar leadership. Jika pimpinan sekolah memiliki VVC, proses mengajar belajar tentunya akan mendapat suasana yang dinamis, problem solving menjadi kebiasaan yang cerdas.

Seorang pimpinan bukan hanya dituntut memiliki kompetensi bidang kerja, namun juga harus memiliki keberanian dan wisdom yang membuat adem rekan kerja dan bawahan.

Beranda sekolah kita, penuh dengan kenyataan hidup. Di sinilah berbagai persoalan harus ditangani dengan pemahaman spiritual yang kental. Kalau tidak, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi pada proses belajar para siswa, yang dalam keseharian melihat Guru sebagai sosok yang diGugu dan ditiRu. 


Ciri-Ciri Kepala Sekolah yang Profesional
Gordon,dalam Mulyasa (2005) memberikan rincian sebagai berikut:
1. Knowledge - Pengetahuan, yakni kesadaran kognitif, agar pembelajaran dapat dilaksanakan secara patut
2. Understanding – Pemahaman pada karakteristik siswa dan karyawan
3. Skill – Kemampuan untuk memberi kemudahan cara belajar bagi siswa dan Guru
4. Value – Nilai-nilai yang digunakan untuk membangun karakter
5. Behaviour – Sikap yang mendukung segala respon yang terjadi, senang susah, suka tidak suka, krisis, gejolak, dll
6. Interest - Minat atau kecenderungan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar